Minggu, 26 Oktober 2014

Introducing

Seperti seorang ibu yang baru saja melahirkan, mungkin seperti itu pula perasaanku saat ini. Karena apa? Karena hari ini adalah hari kelahiran untuk blog baru ku ini. Oke, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi memang begitulah aku. Dijaman sekarang ini siapa sih yang tidak punya blog? Hampir semua penghuni bumi ini punya kan? Aku nya saja yang memang terlalu gaptek, padahal membuat blog itu semudah beli kacang di warungnya teteh sebelah rumah. Oke, lupakan saja tentang kegaptekanku itu. Boleh aku mengenalkan diri?
Aku lebih suka menyebut diriku dengan Shya, karena panggilan itu mengingatkanku pada beberapa orang yang pernah singgah dalam hidupku dan sekarang juga masih mengisi hariku. Anggap saja panggilan itu sebagai penghormatanku atas mereka, my elder sister, my bestfriend, dan seorang teman yang aku hormati layaknya abang sendiri. Aku adalah seorang nomaden sejati, terbukti dari seringnya aku berpindah tempat tinggal. Mungkin aku belum menemukan tempat yang sesuai dengan karakterku. Halah, yang terakhir itu pembenaran saja.
Aku punya pekerjaan yang kata orang menyenangkan. Mereka tidak tahu saja betapa pekerjaan itu kadang membuatku frustasi dan tertekan. Tapi aku harus mencintai pekerjaanku kan? Jadi aku masih berusaha untuk merasa nyaman dengannya. Dan berharap suatu hari aku bisa merasakan kenyamanannya. Nyaman yang bagaimana? Aku tidak akan menjelaskannya di sini. *senyum ala ibu tiri*. Beberapa orang di sekitarku pasti tahu lah apa maksudku.


Oh, aku lupa mengenalkan malaikat kecilku. Dia adalah alasanku untuk tetap bertahan, meski kadang lelah merayuku untuk menyerah. Bukan, dia bukan anakku. Tapi aku mencintainya segenap hatiku. Mungkin seperti cinta seorang ibu, entahlah, aku belum pernah merasakan menjadi seorang ibu. Matahariku itu adalah pusat semestaku. Tempat aku mengisi ulang semangat yang sering meredup. Apapun pintanya selagi itu masuk akal dan wajar pasti aku penuhi. :D. Aku memanggilnya Kakak, kadang Menyut jika dia sedang susah sekali diatur.

Oke, aku rasa cukuplah perkenalanku ini. Jujur saja sebenarnya aku tidak bisa menulis. Terbukti dengan betapa rancunya perkenalan ini. Biar sajalah, toh aku juga menulisnya untuk diriku sendiri. Hanya seperti curhatan kecil di buku diary.